LAMONGAN (. RADAR PAGI ) Malam Idulfitri di Desa Tritunggal Grogol, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, selalu menyuguhkan pemandangan yang memikat. Di tengah modernisasi, warga setempat tetap teguh menjaga tradisi takbir keliling sebagai bentuk syiar agama sekaligus warisan budaya yang sarat akan makna.
Meski kebijakan dan metode pelaksanaan takbiran sering kali berbeda-beda di tiap wilayah Nusantara, masyarakat Desa Tritunggal memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan kegembiraan menyambut hari kemenangan.
*Simbol Kekompakan Lewat “Ocor Babuh”* Salah satu ciri khas yang masih kental terasa adalah pawai berjalan kaki. Sebagian besar warga turun ke jalan dengan membawa ocor babuh (obor bambu). Cahaya api yang merambat dari bambu ke bambu bukan sekadar alat penerangan, melainkan simbol kekompakan dan kehangatan hubungan antar-tetangga. Tak jarang, iring-iringan obor ini dipadukan dengan kreativitas warga lainnya, seperti:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
* *Musik Perkusi*: Tabuhan bedug yang ritmis mengiringi lantunan takbir.- *Parade Lampion*: Kehadiran lampion hias dengan berbagai bentuk menambah estetika barisan pawai di sepanjang jalan desa.
*Lebih dari Sekadar Religi* Menurut pengamatan di lapangan, tradisi ini tidak hanya dipandang dari sisi religius semata. Takbir keliling telah menjelma menjadi peristiwa budaya yang memperkuat sisi sosial masyarakat.
“Takbiran di sini adalah momen mempererat tali silaturahmi. Perbedaan cara pelaksanaannya justru menunjukkan kekayaan kearifan lokal yang kita miliki,” ujar Siswanto, salah satu tokoh atau warga setempat.
Nuansa budaya yang melekat kuat membuat takbir keliling di Desa Tritunggal menjadi identitas yang membanggakan. Meskipun zaman terus berubah, derap langkah kaki dan gema takbir di bawah cahaya obor tetap menjadi cara paling ampuh bagi warga Lamongan untuk merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.
Redaksi//
Redarapagi.id
Reporter: Siswanto










