SAMPANG(radarpagi.id) – Bencana longsor kembali menghantam Kabupaten Sampang secara beruntun. Hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Madura bagian selatan dan barat selama beberapa hari terakhir membuat tanah kehilangan daya ikat, memicu longsor di tiga kecamatan hanya dalam waktu dua hari. Dampaknya nyata dan serius: akses jalan poros desa terputus total dan satu unit rumah warga ambruk akibat terjangan aliran air.
Pada Rabu (14/1/2026), longsor pertama terjadi di Dusun Baduwak, Desa Karang Penang Onjur, Kecamatan Karang Penang. Tebing jalan sepanjang kurang lebih 15 meter dengan ketinggian sekitar 3 meter runtuh setelah terus-menerus tergerus aliran anak Sungai Kali Kamoning. Akibat kejadian tersebut, jalur utama penghubung antarpermukiman warga lumpuh total dan tidak dapat dilalui kendaraan apa pun.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sampang, Fajar Arif Taufikurrahman, ST, MT, menegaskan bahwa longsor tersebut bukan peristiwa tunggal, melainkan akumulasi dari cuaca ekstrem yang tak kunjung mereda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Curah hujan yang tinggi dalam durasi panjang membuat struktur tanah jenuh air dan kehilangan kestabilan. Kondisi ini sangat rawan memicu longsor susulan, terutama di kawasan tebing dan bantaran sungai,” tegas Fajar.
Belum tuntas penanganan di Karang Penang, longsor kembali terjadi keesokan harinya, Kamis (15/1/2026), di dua kecamatan lain. Di Dusun Tiarah, Desa Terosan, Kecamatan Banyuates, tebing jalan sepanjang sekitar 20 meter dengan ketinggian mencapai 4 meter ambruk, melumpuhkan jalur transportasi warga dan menghambat aktivitas sosial maupun ekonomi masyarakat setempat.
Situasi lebih mengkhawatirkan terjadi di Dusun Sumber Bakti, Desa Ketapang Barat, Kecamatan Ketapang. Satu unit rumah warga roboh setelah fondasinya terkikis aliran air dari Daerah Irigasi (DI) Dam Ketapang Barat. Bagian kamar dan dapur rumah runtuh, memaksa penghuni meninggalkan tempat tinggalnya demi keselamatan jiwa.
Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Sampang, Aang Djunaidi, ST, MT, menyampaikan bahwa dampak longsor tidak bisa dipandang ringan dan membutuhkan penanganan lintas sektor yang terkoordinasi.
“Kami sedang melakukan pendataan teknis secara detail untuk memastikan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi bisa dilakukan secara tepat, baik dalam tahap darurat maupun penanganan permanen,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa BPBD bertindak sebagai garda koordinasi utama dalam penanganan bencana.
“BPBD tidak bekerja sendiri. Seluruh unsur kami libatkan, mulai dari TNI-Polri, OPD teknis, pemerintah kecamatan dan desa, relawan, hingga masyarakat. Tanpa koordinasi yang kuat, risiko bencana susulan akan semakin besar,” tegas Aang.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, rangkaian longsor ini mempertegas rapuhnya sejumlah wilayah di Kabupaten Sampang terhadap ancaman bencana hidrometeorologi. Kerusakan jalan dan rumah warga menambah daftar panjang kawasan rawan longsor yang membutuhkan perhatian serius dan penanganan berkelanjutan.
Hingga saat ini, tim gabungan BPBD, TNI-Polri, pemerintah kecamatan, perangkat desa, dan warga masih disiagakan di lokasi terdampak. Kondisi cuaca yang masih diwarnai hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi membuat status kewaspadaan tetap diberlakukan.
BPBD Kabupaten Sampang kembali mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan potensi bahaya.
“Kami minta masyarakat tidak memaksakan diri melintasi jalur rawan longsor. Segera laporkan jika melihat retakan tanah, pergerakan tebing, atau aliran air yang mencurigakan. Keselamatan jiwa adalah prioritas utama,” pungkas Fajar.
Sebagai bentuk respons cepat, BPBD Kabupaten Sampang membuka layanan Emergency Call 0817-0322-4440 guna mempercepat laporan dan penanganan kedaruratan di lapangan.










